Archive for the ‘ARTIKEL MAJALAH TRUBUS’ Category

Tiga Nona Perkasa

Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.com

UNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :
HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster
binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Tiga bersaudara anggota keluarga Annonaceae: sirsak, srikaya, dan mulwo tumbuh di Indonesia. Masing-masing memiliki senjata andalan untuk mengobati penyakit.

Pamor sirsak Annona muricata kini tengah naik daun sebab mampu menumpas kanker. Peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodiharjo PhD dan Jerry L McLaughin dari Universitas Purdue menemukan bahwa daun sirsak mengandung senyawa aktif acetogenins yang secara uji praklinis pada beragam sel kanker memiliki kemampuan menghambat produksi energi ATP di dalam sel kanker.

Banyak kajian lain menggambarkan keampuhan daun zuurzak itu – sebutan tanaman sirsak dalam bahasa Belanda. Rebusan daun sirsak di berbagai negara di Amerika Selatan dan Afrika manjur mengobati penyakit cacingan, asma, hipertensi hingga malaria yang mematikan. Di luar daun, masih terdapat bunga, biji, kulit batang, sampai akar yang sama-sama berkhasiat. Di Brasil ekstrak biji sirsak, misalnya, menjadi bahan astringen atau toner untuk membersihkan kotoran di permukaan kulit.

Tidak beracun

Kerabat lain sirsak, srikaya Annona squamosa yang banyak ditanam di tanahair juga mempunyai beberapa manfaat penting. Tengok riset Kaleem M PhD dari Departemen Biokimia Universitas Alligarh Muslim di India seperti dimuat dalamSingapore Medical Journal pada 2008. Ekstrak daun muda srikaya itu dapat mengobati penyakit diabetes mellitus (DM) alias kencing manis yang saat ini jumlah penderitanya di seluruh dunia mencapai 250-juta orang.

Penelitian itu mengungkapkan asupan ekstrak daun muda srikaya sebanyak 300 mg/kg bobot tubuh secara oral pada mencit selama 30 hari memelorotkan kadar gula darah – antihiperglikemik, asam urat, dan kreatinin secara signifikan. Penurunan itu diikuti oleh melonjaknya nilai kadar insulin dan albumin. Riset itu juga membuka jalan bagi penelitian lain karena terungkap ekstrak daun srikaya itu berprospek pula mengatasi penyakit lever.

Di tanahair ketua Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Sismindari Apt telah meriset biji srikaya. Salah satu hasil penelitian itu mengungkapkan biji srikaya kaya ribosome inactivating protein (RIP). Peran RIP adalah merusak sintesis protein pada sel yang sedang tumbuh sehingga mati. ‘Dengan kondisi itu RIP juga berpotensi merusak sel kanker yang merupakan sel tumbuh,’ ujar Sismindari yang menjelaskan pula bahwa biji srikaya mengandung senyawa annonin yang tidak beracun.

Lebih jauh Sismindari menjelaskan bahwa kandungan RIP juga dijumpai pada daun meski jumlahnya tidak melimpah seperti pada biji. ‘Pada daun yang saya lihat efeknya dapat menggugurkan kandungan,’ katanya.

Tiga spesies

Sejatinya Annonaceae merupakan salah satu famili kelompok tumbuhan berbunga yang memiliki jumlah anggota lebih dari 2.000 spesies. Empat genus di antaranya: Annona, Rollinia, Uvaria, dan Asimina, buahnya dapat dikonsumsi. Genus annona terdiri dari 8 spesies antara lain sirsak Annona muricata, srikaya A. squamosa, mulwo A. reticulata, ilama A. diversifolia, A. glabra, A. purpurea, dan A. montana.

Tiga yang disebut pertama tumbuh di Indonesia. Sirsak dan srikaya lebih banyak dijumpai karena banyak dibudidayakan untuk dipanen buahnya. Mulwo jarang dipelihara karena rasa buahnya hambar tidak senikmat sirsak dan srikaya. Sebab itu tanaman ini menjadi langka. ‘Penelitian di luar negeri juga jarang dilakukan pada jenis ini karena tanamannya saja sulit diperoleh,’ kata Dr Hamidah MKes, peneliti Annona dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga di Surabaya.

Sejauh ini penelitian perbandingan senyawa kimia Annona belum banyak terungkap. Penelitian yang telah dilakukan terkonsentrasi mengupas hubungan kekerabatan antara sesama Annona seperti dilakukan Royero dan kawan-kawan pada 2004 yang meneliti kekerabatan variasi morfologi muricata dengan memakai teknik Random Amplified PolymorphicDNA (RAPD) di habitat berbeda di Kolombia, Amerika Selatan.

Habitat berbeda cukup berpengaruh pada keragaman sosok Annona meski berasal dari jenis sama, seperti perbedaan ukuran daun, bangun daun, dan warna daun. Hal itu dapat terjadi karena beragam faktor: suhu, ketinggian, kelembapan, dan kondisi tanah.

Hal sama juga diteliti oleh Hamidah. Ia memakai teknik serupa – RAPD – terhadap 3 spesies Annona: muricata, reticulata, dan squamosa yang tumbuh di Surabaya dan Pacitan – seluruhnya di Jawa Timur, menunjukkan bahwa squamosa memiliki kekerabatan secara taksonomi lebih dekat dengan reticulata daripada terhadap muricata. (Dian Adijaya/Peliput: Endah Kurnia Wirawati, Tri Susanti, dan Tri Istianingsih)

Srikaya

Riset Ira Djajanegara dan Prio Wahyudi dari P3 Teknologi Bioindustri BPPT mengungkap ekstraksi simplisia daun srikaya yang mengandung senyawa alkaloid, tanin, sterol, saponin, flavonoid, triterpenoid, dan glikosida berpotensi sebagai bahan alami antikanker. Hal itu lantaran ekstraksi daun srikaya memakai etanol 70% memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa – sel kanker turunan dari sel epitel leher rahim (serviks) pada manusia – dengan nilai LC50sebesar 7,6948 μg/ml.

Kulit kayu pohon srikaya lebih kuat 10 – 100 kali dibandingkan Adriamycin sehingga bersifat sitotoksik selektif pada sel tumor pankreas di manusia. Itulah hasil riset D Craig Hopp dan rekan-rekan dari School of Pharmacy & Pharmacal Science Universitas Purdue di Indiana, Amerika Serikat.

Mulwo

Riset D Craig Hopp dan rekan-rekan juga menemukan bahwa biji mulwo mengandung 6 senyawa acetogenins seperti annoreticuin, bullatacin, dan squamocin. Senyawa-senyawa itu memperlihatkan potensi melawan 4 jenis sel kanker yaitu Hep. 2,2,15, Hep. G2, KB, dan CCM2.

Iklan

Daun Ke-4


Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

‘Jangan gunakan yang terlalu muda atau tua. Pilih daun ke-4 atau 5 dari ujung,’ kata Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta, yang biasa memanfaatkan daun sirsak untuk terapi pengobatan.

Pilihan daun ke-4 atau 5 bukan tanpa alasan. Menurut Dr Hamidah MKes, dosen Biologi Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Airlangga, kemungkinan kandungan senyawa annonaceous acetogenins – kandungan utama daun sirsak yang bersifat antikanker – terdapat pada daun dengan kematangan sedang. ‘Pada daun yang terlalu muda, senyawa belum banyak terbentuk. Sementara pada daun yang terlalu tua sudah mulai rusak sehingga kadarnya berkurang,’ kata Hamidah.

Effendi – produsen herbal di Jakarta yang tertarik mengembangkan herbal daun sirsak – merisetkan di sebuah lembaga penelitian di Jakarta. Ia meminta pasokan daun sirsak – muda, sedang, tua – dari pengepul yang mengambil di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ‘Dengan riset ini saya ingin mengetahui bagian mana yang lebih baik digunakan. Termasuk mana yang lebih pas: digunakan segar atau kering,’ kata Effendi. Riset sejak November 2010 diperkirakan selesai pada Januari 2011. (Tri Susanti/Peliput: Karjono)

Serdadu Mungil

Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.comUNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

Acetogenins sejatinya merupakan kumpulan senyawa aktif dalam daun sirsak. Periset dari Sekolah Farmasi Purdue University, Jerry L McLaughlin serta Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo PhD menemukan beberapa senyawa aktif yang termasuk dalam acetogenins. Beberapa di antaranya adalah muricatocins A, muricatocins B, annonacin A, trans-isoannonacin, annonacin-10-one, dan muricatocin.

Senyawa-senyawa aktif yang mereka temukan dalam daun sirsak Annona muricataitu manjur mengatasi beragam sel kanker. Berikut fakta penghambatan senyawa acetogenins hasil riset mereka di Laboratorium Kultur Sel, Pusat Kanker Purdue, Amerika Serikat.

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5051:serdadu-mungil&catid=81:topik&Itemid=520

Dosis Aman Daun Antikanker

DAUN SIRSAK Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.com

UNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :
HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797
@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id

===

Mardiana meringis kesakitan. Punggungnya terasa panas dan kerongkongan kering sehingga tidak bisa menelan setelah 3 hari mengonsumsi air rebusan daun sirsak.

Semula perempuan 62 tahun itu senang bukan kepalang. Dari media cetak ia mendapat informasi daun sirsak bisa mengobati kanker getah bening yang kini tengah menderanya. Kebetulan di dekat rumah tinggalnya di Jakarta Utara, daun sirsak mudah diperoleh. Ia langsung merebus 10 lembar daun sirsak dalam 3 gelas air hingga tinggal 1 gelas dan meminumnya. Dalam sehari Mardiana melakukan ritual itu 3 kali: pagi, siang, dan sore. Artinya 30 lembar setara 3 gelas air rebusan daun sirsak setiap hari masuk ke dalam tubuhnya.

Dengan terapi itu harapan Mardiana dalam waktu tidak terlalu lama kanker getah bening bisa terobati. Namun, apa mau dikata, justru penderitaannya kian bertambah karena leher dan punggung malah terasa panas. Ia pun kesulitan menelan sehingga nyaris tak ada makanan yang masuk. Oleh karena itu ia menemui herbalis Lina Mardiana dari Yogyakarta yang sedang praktek di Cimanggis, Depok. ‘Dosisnya terlalu tinggi, sehingga menimbulkan rasa panas di tubuh dan kerongkongan kering,’ kata Lina Mardiana, mengomentari.

Fleksibel

Menurut Lina Mardiana, herbal tidak menimbulkan efek samping terlalu membahayakan sebagaimana obat-obatan kimia. Namun, penggunaannya tetap harus hati-hati. ‘Daun sirsak jika dikonsumsi berlebih bisa menyebabkan sesak napas,’ imbuh Lina. Memang tak ada patokan pasti dosis yang pas untuk mengonsumsi daun sirsak. Itu tergantung jenis penyakit dan tingkatannya, ketahanan tubuh pasien, serta bentuk bahan – segar atau kering.

Sebagai contoh, untuk kasus Mardiana yang kanker getah beningnya stadium 4, Lina Mardiana meresepkan 10 lembar daun sirsak direbus dalam 4 gelas air hingga tinggal 3 gelas. Ke dalam rebusan tambahkan 5 lembar daun sirih merah sebagai antibakteri, dan garam sepucuk sendok teh. Hasil rebusan untuk diminum dalam sehari. ‘Sekali minum boleh seteguk atau dua teguk, tidak perlu segelas. Yang penting hari itu juga harus habis,’ ujar herbalis yang mendapat ilmu pengobatan dari mendiang ibunya itu.

Untuk kasus-kasus penyakit lain, Lina menganjurkan penggunaan daun sirsak dengan dosis fleksibel: 7, 10, 15, 17, 21, dan 31 lembar. Dengan catatan, ‘Bila menimbulkan efek samping seperti terasa panas dan napas sesak, segera kurangi dosis,’ lanjutnya. Sebaliknya jika selama mengonsumsi tidak menimbulkan efek samping, dosis boleh ditingkatkan agar terapi berjalan efektif. Sebab dosis yang terlalu rendah berakibat proses penyembuhan lebih lama.

Mendiang Broto Sudibyo, herbalis kondang di rumahsakit Bethesda, Yogyakarta, selalu menggunakan angka 7 dalam resepnya. Ia akan meracik 7 lembar daun, 7 sendok, atau 7 ruas untuk pengobatan beragam penyakit. Tujuh dalam bahasa Jawa adalah pitu. Dengan serbatujuh, Broto Sudibyo mengharapkan pitulung alias pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga racikan yang dibuat bisa memberikan kesembuhan pada pasienpasiennya. Keyakinan itulah yang berkembang dan diterapkan oleh sebagian besar masyarakat di tanahair.

Dataran rendah

Sependapat dengan Lina Mardiana, pendiri Pusat Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir H Evrizal, A.M. Zuhud, MS, dosis daun sirsak tidak bisa dipukul rata untuk semua orang dan jenis penyakit. Nangka seberang Annona muricata tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl. Karena itu pula, ‘Kandungan acetogenins, zat aktif dalam sirsak yang diklaim mengendalikan kanker pasti berbeda untuk setiap lokasi tumbuh,’ kata Evrizal.

‘Daun sirsak untuk obat sebaiknya diambil dari tanaman pekarangan yang tumbuh di dataran rendah, sekitar 50 m dpl,’ kata Prof Sumali, guru besar Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia. Itu lantaran tanaman yang tumbuh di dataran rendah mendapat intensitas matahari yang lebih tinggi dibanding tanaman di dataran rendah. Dengan intensitas lebih baik menyebabkan proses fotosintesis lebih tinggi sehingga zat aktif lebih banyak terbentuk.

Sumali juga menyebut daun sebaiknya diambil dari pohon yang sudah berbuah agar zat kimia yang terkandung di dalamnya lebih lengkap. Beberapa penelitian menyebutkan kandungan acetogenins yang berperan mengendalikan sel kanker terbanyak pada daun ke-4 dan 5 dalam satu ranting. ‘Jika itu sulit diperoleh, rebus saja daun yang tidak terlalu muda atau terlalu tua. Daun tidak mesti segar, dikeringkan pun bisa, asal proses pengeringannya benar,’ ungkap Sumali. Yang dimaksud benar adalah daun sirsak tidak dijemur di bawah terik matahari, melainkan diangin-angin pada suhu kamar. Atau dioven, tapi suhu tidak boleh lebih dari 60oC .

Setelah dikeringkan, daun sirsak disimpan di tempat yang kering supaya tidak ditumbuhi cendawan sehingga daun sirsak tahan hingga berbulan-bulan dan siap direbus kapan pun dibutuhkan. Dengan cara itulah dulu Prof Soelaksono Sastrodihardjo, mantan periset di Institut Teknologi Bandung, mengirim sampel daun sirsak untuk diteliti di Amerika Serikat. Soelaksono mengambil daun sirsak dari pohon yang sedang memproduksi buah dari Garut, Jawa Barat, dan mengeringkannya. (Karjono/Peliput: Trisusanti, Faiz Yajri)

  1. Secara empiris masyarakat menggunakan daun sirsak tidak berdasarkan letak daun, melainkan seluruh daun, yang penting tidak terlalu muda atau terlalu tua. Dianjurkan untuk mengambil daun dari tanaman yang pernah berbuah supaya kandungan zat kimianya lebih lengkap
  2. Rebus daun dengan dosis dan frekuensi konsumsi sesuai penyakit
  3. Kandungan bahan aktif tidak berkurang meski daun dikeringkan terlebih dulu, asal proses pengeringan dilakukan dengan benar

Bekerja Seperti Adriamycin



Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.com

UNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :
HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797
@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Senyawa acetogenins pada daun sirsak memiliki cara kerja serupa dengan salah satu obat kemoterapi.

Obat kemoterapi kanker itu adalah adriamycin. Menurut Dr Aru Wisaksono Sudoyo SpPD KHOM FACP FINASIM, ahli hematologi-onkologi di Jakarta, adriamycin memang merupakan salah satu obat kemoterapi kanker. Seperti dikutip dalam http://www.news-medical.net dan The Gale Encyclopedia of Cancer 2nd, adriamycin populer lantaran efektif mengobati leukemia dan aneka kanker seperti paru-paru, payudara, dan tiroid.

Adriamycin (nama dagang) mengandung senyawa antikanker doxorubicin. Senyawa itu mampu mengganggu aktivitas pembelahan DNA pada sel kanker. Ujung-ujungnya sel kanker sulit untuk tumbuh dan berkembang. Singkat kata tugas adriamycin yang diberikan lewat penyuntikan atau infus itu adalah membunuh sel kanker.

Acetogenins

Senyawa acetogenins pada daun sirsak Annona muricata bekerja mirip adriamycin itu. Acetogenins mampu menghambat produksi energi ATP di dalam sel kanker. Efeknya pembelahan sel kanker terganggu. Sejauh ini belum terdapat riset yang menjelaskan seberapa besar kemampuan senyawa acetogenins daun sirsak dalam menumpas sel kanker dibandingkan adriamycin.

Perbandingan dengan adriamycin justru terkuak pada biji sirsak. Riset Rieser MJ, Fang XP, Zeng L, dan McLaughin JL dalam Journal of Natural Product pada Februari 1996, mengungkapkan cis-annonacin, salah satu senyawa dari lima senyawa aktif di biji – cis-annonacin-10-one, cis-goniothalamicin, arianacin, dan javoricin – memiliki kemampuan sitotoksik sebagai senyawa antikanker.

Riset yang memakai metode tes brine shrimp lethality (BSL) itu juga menjelaskan senyawa cis-annonacin memiliki potensi 10.000 kali lebih besar daripada adriamycin untuk mengatasi sel tumor. Senyawa itu juga bersifat sitotoksik selektif terhadap kanker usus besar.

Sejatinya tes BSL merupakan uji awal untuk mendata jenis-jenis bahan aktif dari ekstrak tanaman. Tes itu dipakai karena mudah, murah, dan hanya perlu sedikit bahan uji. Bila bahan aktif sudah diperoleh, pengujian bahan-bahan itu dilakukan lebih spesifik lewat serangkaian tes lanjutan lainnya.

Tes BSL yang memakai larva udang Artemia salina sebagai bahan uji tidak bisa menjadi pedoman untuk memukul rata keampuhan senyawa aktif. Maka dari itu riset Rieser MJ dan kawan-kawan hanya menyebutkan nilai potensi 10.000 kali lebih besar daripada adriamycin. “Brine shrimp itu baru tes awal. Masih perlu tes-tes lain untuk menguji kemampuan senyawa aktif itu. Contoh dari 10.000 senyawa aktif, nantinya hanya 1 – 2 senyawa yang bisa dipakai menjadi obat bagi manusia,” kata Prof Dr Amri Bakhtiar DESS Apt, ahli farmasi dari Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat.

Doxorubicin

Kerabat sirsak, srikaya Annona squamosa dilaporkan memiliki kemampuan di atas adriamycin. Hasil riset D Craig Hopp dan rekan-rekan dari School of Pharmacy & Pharmacal Science Universitas Purdue di Indiana, Amerika Serikat, menyebutkan kulit kayu srikaya memiliki kemampuan menumpas kanker 10 – 100 kali lebih kuat daripada adriamycin.

Sayang riset itu tidak menyebutkan efek samping konsumsi dari dosis sebesar itu. Padahal pemakaian adriamycin, misalnya, berefek samping antara lain rambut rontok, kehilangan 8 – 10% bobot tubuh, hingga anjloknya kadar sel darah putih alias leukosit yang merupakan antibodi tubuh. “Adriamycin juga bisa menyebabkan gangguan jantung, ginjal, dan hati,” kata Dr Andhika Rachman SpPD dari Divisi Hematologi-Onkologi Rumah Sakit Cipto Mangkunkusumo (RSCM) di Jakarta Pusat.

Oleh sebab itu pemakaian adriamycin perlu kontrol ketat dokter. Harap mafhum setiap jenis kanker memiliki dosis penanganan berbeda. “Dosis itu bergantung dari riwayat penyakit pasien,” tambah Andhika. Kanker getah bening, misalnya, perlu dosis doxorubicin sebesar 50 mg per luas permukaan tubuh. Contohnya sebagai berikut. Bila tinggi pasien 150 cm dan bobot 60 kg, maka dosis doxorubicin yang dibutuhkan adalah akar dari tinggi tubuh dikali bobot tubuh, dibagi 3.600. Dari perhitungan diperoleh luas permukaan tubuh pasien 1,58 (150 x 60/3.600 = 2,5; √2,5 = 1,58), maka dosis doxorubicin yang diperlukan adalah 1,58 x 50 mg = 79 mg.

Menurut Aru W Sudoyo, peran daun sirsak sesungguhnya hanya sebagai komplementer saja. Artinya menambah sesuatu pengobatan yang dapat membantu penyembuhan. Jadi penderita kanker tetap perlu menjalani pengobatan kemoterapi dan juga mengonsumsi obat kanker yang diberikan oleh dokter. Bentuk sinergi pengobatan itu diharapkan mampu benar-benar menumpas sel kanker di tubuh. (Dian Adijaya S/Peliput: Rosy Nur A dan Endah Kurnia Wirawati)

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5269:bekerja-seperti-adriamycin&catid=81:topik&Itemid=520


Sentosa Karena Graviola

DAUN SIRSAK Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.com

UNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :
HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797
@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

JANGANKAN BERANGKAT SIARAN, BANGKIT DARI TEMPAT TIDUR SAJA, SUKARTI TAK MAMPU. TELAPAK KAKI MEMBENGKAK. JIKA TERSENTUH SEDIKIT SAJA, RASANYA NYERI.

Mestinya Sukarti memang siaran di sebuah stasiun radio di Jakarta Timur. Namun, pagi pada pertengahan 2008 itu ia tak dapat melangkah. Suaminya bertindak cepat, mengangkat Sukarti ke sebuah klinik. Biang keladi persoalan itu adalah kadar asam urat yang membubung, yakni 6,8 mg/dl; kadar normal, 6 mg/dl. Ketika itulah ia teringat petuah kakek, obat asam urat adalah buah sirsak. Hari itu juga ia minta tolong kepada pramuwisma untuk mencari dan membuat jus sirsak.

Perempuan 55 tahun itu mengonsumsi segelas jus sirsak 2 kali sehari. Begitulah menu Sukarti 4 hari berturut-turut. Pada hari ke-5 ia mampu berjalan dan bekerja seperti sedia kala. Sayang, ia tak memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kadar asam urat. Namun, yang pasti setelah rutin menyeruput jus sirsak tanpa gula dan tanpa es itu bengkak di telapak kaki mengempis. Bersamaan dengan itu rasa nyeri juga hilang.

Multikhasiat

Sirsak sesungguhnya bukan barang baru dalam pengobatan tradisional di tanahair. Secara turun-temurun masyarakat mengonsumsi daun dan buah sirsak untuk menyehatkan tubuh. Masyarakat Aceh, misalnya, menyantap buah sirsak untuk mengatasi hepatitis. Selain itu mereka juga memanfaatkan daun sebagai obat batuk. Bagi etnis Sunda buah sirsak yang masih muda berfaedah sebagi penurun tekanan darah tinggi; daun, untuk menghilangkan mual, bisul, dan rematik.

Etnis Madura memanfaatkan buah sirsak untuk meredakan diare dan sakit perut. Adapun etnis Kutai memilih daun untuk mengobati diare. Masyarakat etnis Dayak percaya mengonsumsi buah sirsak menghilangkan mual. Secara empiris buah atau daun Annona muricata manjur mengatasi beragam penyakit. Daun berfaedah untuk mengatasi luka borok, bisul, kejang, jerawat, dan kutu rambut. Sedangkan buah graviola atau sirsak berkhasiat untuk mengobati disentri, empedu akut, dan kencing batu.

Untuk meramu daun sirsak relatif mudah. Pendiri Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ervizal A. M Zuhud, MS, mengatakan untuk memperoleh khasiat itu kita dapat merebus daun dan membuat jus daging buah. Zuhud yang juga menjabat kepala Bagian Konservasi dan Keanekaragaman Tanaman, Fakultas Kehutanan IPB merebus 10 daun tua dalam 2 gelas air hingga mendidih. Setelah dingin, ia menyaring, dan hasil rebusan siap konsumsi.

Banyak herbalis yang meresepkan sirsak. Sarah Kiswanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, memakai daun sirsak untuk mematangkan bisul. Caranya, “Tumbuk daun lalu oleskan ke bisul. Setelah pecah, olesi bagian yang luka dengan antiseptik,” kata Sarah. Ia juga memanfaatkan daun sirsak untuk antikejang. Menurut herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, daun sirsak memang tokcer mengatasi radang seperti bisul. Selain itu, “Daun sirsak dapat menyembuhkan keputihan, meluruhkan kolesterol, dan hipertensi,” kata Lina.

Sabar

Pasien memang perlu sabar hingga menggapai kesembuhan. Harap mafhum, layaknya herbal lain efek penyembuhan baru terasa setelah rutin mengonsumsi daun sirsak selama 1 bulan. Berdasarkan pengalaman Lina, daun sirsak dapat menuntaskan penyakit yang disebabkan radang dalam waktu 3 bulan. Doker dan herbalis di Jakarta Timur, dr Willie Japaries MARS juga sepakat. Menurut Willie penggunaan terapi kanker lebih lama lagi tergantung stadium.

Willie meresepkan daun sirsak dengan beberapa herba lain. Biasanya ia menggabungkan 3—4 macam tanaman obat. Harap mafhum, “Ada 2 tipe penyakit: panas dan dingin. Tipe yang sama berlaku untuk tanaman obat. Sirsak, bersifat netral sehingga cocok mengatasi radang dan kanker yang bersifat panas serta gondok bersifat dingin,” kata Willie. Gejala penyakit tipe panas tampak dari lidah merah, selaput kuning, nadi cepat, air seni pekat, dan demam. Sebaliknya, dingin dapat kelihatan dari selaput lidah licin dan urine bening.

Tanaman obat bersifat dingin adalah sambiloto, akar alang-alang, lendir lidah buaya, dan daun lotus. Sedangkan tanaman obat bersifat panas seperti jahe, ginseng, tembolok ayam, dan sisik trenggiling bagus untuk memperkuat daya tahan tubuh. Berikut resep dan cara membuat ramuan sirsak. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Endah Kurnia, Sardi Duryatmo, dan Tri Susanti).

Resep Tokcer

1. Relaksasi dan membuat tidur

Tiga lembar daun sirsak. Cuci daun sirsak, masukkan dalam secangkir air panas lalu diamkan selama 5—10 menit. Setelah itu angkat daun. Untuk menambah citarasa, tambahkan gula dan beri perasan jeruk lemon.

2. Bisul

  • Ambil 15—30 g daun sirsak segar. Cuci bersih lalu peras sampai keluar ekstrak. Minum ekstrak daun sirsak 3 kali sehari. Ampasnya untuk mengompres bisul.
  • Bila direbus, masukkan 10 g daun sirsak kering dalam 3 gelas air. Angkat sampai menjadi 1 gelas air. Setelah itu minum 3 kali sehari.
  • Cara lain: ambil segenggam daun sirsak. Tumbuk sampai halus lalu taruh di sekeliling bisul. Biarkan sampai mengering. Ulangi sampai bisul pecah. Setelah itu oleskan antiseptik.

3. Antikejang

Rebus 7 lembar daun dalam 3 gelas air. Saring sampai menjadi 1 gelas. Tambahkan sedikit gula merah dan garam. Minum setengah gelas setiap pagi dan sore hari.

4. Pengobatan tradisional di Belize, Amerika Tengah.

  • Menurunkan panas: Rebus daun sirsak atau minum teh daun sirsak. Cara lain,taruh beberapa lembar daun sirsak dalam bak mandi.
  • Cacar: Remas daun sirsak segar, oleskan ke kulit.
  • Rematik dan eczea: Blender daun sirsak muda sampai seperti bubur. Lulurkan ke kulit. Cara itu dapat meringankan penyakit.
  • Kaki bengkak dan pembengkakan lain: kompres bagian yang bengkak dengan daun sirsak yang dijadikan seperti teh.
  • Jus buah sirsak dapat mengatasi urethritis, haematuria and liver ailments

5. Keputihan

Campur 15 lembar daun sirsak dengan 5 ruas jari kunyit yang telah dipotong-potong. Lalu masukkan dalam air sebanyak 5 gelas, tambahkan garam, madu atau gula merah. Setelah itu rebus sampai jadi 3 gelas air. Minum rebusan 3 kali sehari masing-masing segelas.

6. Darah tinggi

Rebus daun sirsak dan rambut jagung manis (muda) dan minum 2—3 kali sehari.

7. Kolesterol

Ambil 3—5 daun sirsak lalu rebus dalam 3 gelas air. Angkat dan saring daun setelah menjadi 1 gelas. Minum secara rutin setiap hari selama sebulan. Cara lain: jus 50—100 g/hari buah sirsak. ***

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5043:sentosa-karena-graviola-&catid=81:topik&Itemid=520

Daun Sirsak Vs Metastasis Kanker Pita Suara

Ng Tung Hauw rajin mengkonsumsi segelas air rebusan daun sirsak dan hasilnya setelah dua bulan sel kanker saluran paru – paru mengecil

DAUN SIRSAK Bisa dibeli online di http://www.binmuhsingroup.com

UNTUK KOLSUNTASI DAN PEMESANAN SILAHKAN HUBUNGI :
HP: 085227044550 Tlp: 021-91913103 SMS ONLY: 081213143797
@MyYM @MyFacebook @MyTwitter @MyYuwie @MyFriendster
binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Sore itu, saat sedang menggoda 2 cucu ciliknya tiba-tiba dada Ng Tung Hauw sesak. Lehernya seperti tercekik, sulit bernapas, dan kakinya lemas. Dalam hitungan detik tubuh Hauw ambruk ke lantai. Di lantai keramik putih itu wajahnya tampak biru lebam. Sontak suasana yang awalnya ceria berubah mendung. Semua penghuni rumah panik. Sang anak lalu membopong Hauw ke mobil untuk dibawa ke rumahsakit.

Beruntung sepanjang perjalanan tidak ada kemacetan. Selang 30 menit mobil bercat hitam tiba di sebuah rumahsakit di Kelapagading, Jakarta Utara. Hauw langsung dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Di sana perawat memasangkan masker oksigen untuk membantunya bernapas. Tetap saja pria 66 tahun itu sulit bernapas. Celakanya, denyut nadi Hauw semakin lemah. Wajahnya kian membiru serta tangan dan kakinya mulai terasa dingin. “Saya nyaris meninggal,” kenang Hauw.

Segera saja Hauw dilarikan ke ruang intensive care unit (ICU). Dokter menyatakan ada massa yang mengganjal di bagian laring atau kotak suara Hauw. Menurut Prof dr Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), dosen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan (THT), Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, laring salah satu organ vital. “Organ itu bertugas mempertahankan jalan pernapasan, melindungi jalan pernapasan dan paru paru, serta membantu mengatur sirkulasi udara. Laring juga sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi,” ujar Bambang.

Perokok berat

Dokter kemudian melakukan laryngoscopy – memasukkan semacam cermin ringan dan kecil ke belakang tenggorokan – untuk melihat kondisi tenggorokan. Dari cermin itu terlihatlah benjolan yang mengganggu jalan pernapasan. Contoh jaringan yang mengganggu diambil (biopsi) untuk diteliti. Hari itu juga Hauw menjalani operasi pemasangan stoma permanen di leher untuk bernapas.

Keesokan hari, pukul 21.00 WIB, hasil lab contoh jaringan keluar. Dari hasil lab dokter menvonis Hauw mengidap kanker pita suara stadium 4 tipe supraglotik yang agresif menyebar. Tipe lain, glotik lebih lambat menyebar tapi kerap menyebabkan penyebaran ke subglotik. Vonis itu bak petir di siang bolong. “Kami tidak memberitahukan berita itu ke Papa. Takut Papa down dan stres,” ujar Hen Wie, putra ke-3 dari 4 bersaudara. Saran dokter, “Pita suara harus diangkat agar sel kanker tidak metastasis atau menyebar,” imbuh Hen Wie.

Sebelumnya Hauw memang pernah divonis tumor pita suara saat berobat ke Hongkong pada September 2009. Gejalanya sama, ia kerap sulit bernapas. Namun, saat itu dokter menyatakan tumor yang bersarang di pita suara kanan Hauw jinak. “Menurut dokter tumor bisa saja tidak dioperasi tapi dapat ditangani dengan mengonsumsi obat-obatan,” kenang Hen Wie. Hauw memilih mengonsumsi obat-obatan. Setelah seminggu dirawat, Hauw kembali ke tanahair. Kondisinya membaik dan dapat bernapas lega.

Tak dinyana, selang 5 bulan tumor jinak itu malah berbalik menjadi ganas. Kakek 11 cucu itu terancam kehilangan pita suara. Seharusnya operasi pengangkatan pita suara dilakukan seminggu setelah operasi pertama. Namun kondisi Hauw lemah, ia kekurangan albumin sehingga operasi diundur. Normalnya, kadar albumin dalam darah 3,5 sampai 5 g/ dL. Untuk mendongkrak albumin Hauw mengonsumsi obat berupa sirup satu sendok sehari.

Albumin normal diperoleh setelah menghabiskan 8 botol sirup seharga Rp2,4-juta per botol. Malam sebelum hari raya Imlek, 13 Februari 2010, harusnya dilewati Hauw dengan makan bersama keluarga. Ia malah terbaring di meja operasi selama 2 jam. Hauw pasrah tidak dapat bersuara alias afoni usai operasi. “Yang penting sehat dan bisa bernapas,” kata Hauw. Untuk bersuara Hauw berlatih teknik esophageal speech. Caranya, menelan udara dan mengumpulkannya dalam esophagus (lambung) lalu perlahan dikeluarkan untuk menghasilkan suara.

Serak

Seminggu pascaoperasi barulah Hauw tahu operasi itu untuk mengangkat sel kanker. Prevalensi kanker laring memang jarang. Namun, bila tidak ditangani dengan benar dapat berujung kematian. Di bidang kesehatan telinga, hidung, tenggorokan (THT) kanker itu menempati urutan teratas di beberapa negara Eropa seperti Italia, Jerman, Perancis, dan Polandia. Data European Cancer Observatory pada 2008 jumlah penderita kanker laring di Italia mencapai 4.342 orang, Jerman 4.107 orang, Perancis 3.434 orang, dan Polandia 3.259 orang.

Ryan P. Smith, MD dan Christine Hill-Kayser, MD, di The Abramson Cancer Center of the University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 2008 melaporkan sebanyak 12.000 kasus kanker laring muncul di Amerika per tahun. Sebanyak 4.200 kasus berujung kematian. “Di Indonesia belum ada data pasti. Namun di bidang THT menempati urutan kedua setelah nasofaring,” kata Bambang.

Sejatinya keganasan laring dapat dideteksi sejak dini. Gejala awalnya berupa suara serak. “Bila suara serak lebih dari 2 minggu pertanda adanya infeksi atau tumor pada laring,” kata Bambang. Itulah yang dialami Hauw. Mantan pengusaha tambang itu mengira ia kelelahan sehingga suaranya serak. Suara semakin parau sampai tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Hauw. Infeksi atau kehadiran tumor membuat pita suara tidak teratur sehingga kerjanya terganggu. Kehadiran benda asing atau pun radang menyebabkan penyempitan celah pita suara.

Ujung-ujungnya sulit bernapas. Menurut Bambang sesak napas atau dispnea serta napas berbunyi (stridor) merupakan gejala akibat gangguan jalan napas oleh massa tumor. Hal itu sekaligus tanda tumor memasuki stadium lanjut. “Perluasan tumor dapat menyebabkan disfagia atau sulit menelan, batuk, sampai batuk berdarah. Namun itu tergantung perluasan tumor,” ujar Bambang.

Gara-gara rokok

Sebetulnya penyebab pasti kanker laring belum diketahui. Namun, ada berbagai faktor pemicu munculnya kanker laring. “Faktor utama adalah rokok,” kata Bambang. Pengamatan Bambang di rumahsakit Carolus dan RS Proklamasi, sekitar 80 – 90% penderita kanker laring adalah perokok berat. Umumnya penderita menghabiskan 1,5 – 2 bungkus rokok per hari. Sebungkus rokok berisi 12 batang. Penyebab lain adalah berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol. Kombinasi keduanya melecut risiko sampai 40 kali lipat.

Selain rokok dan alkohol, iritasi debu kayu, asbes, produk tar, dan debu industri kimia juga melecut munculnya kanker kotak suara. Semua itu mengandung radikal bebas. Radikal bebas memicu kemunculan sel kanker. Menurut dr Nany Leksokumoro, MS, SpGK, ahli gizi klinis di rumahsakit Family, Pluit Mas, Jakarta Utara, radikal bebas dapat ditekan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Yang utama cukup serat. “Serat sumber antioksidan yang dapat melawan radikal bebas,” kata Nany.

Idealnya, kebutuhan serat sekitar 32 – 34 g/hari. Serat dapat diperoleh dengan mengonsumsi buah dan sayuran 3 – 5 kali per hari. Pencegahan lain, pastikan tenggorokan tidak kering. Musababnya, cairan menjaga lendir di tenggorokan tidak terlalu banyak sehingga mudah dibersihkan. Dengan demikian peluang iritasi bakteri atau virus kecil.

Kebanyakan kanker laring menyerang laki-laki atau perbandingan 11 : 1 dengan perempuan. “Rata-rata menyerang laki-laki berusia 50 tahun-an. Namun, kini usia penderita semakin muda. Bahkan ada yang berusia 22 tahun,” kata Bambang. Bukan berarti perempuan terbebas dari kanker laring. Pengataman Bambang setiap tahun jumlah perempuan mengidap kanker laring semakin meningkat. Sebab perempuan masa kini banyak yang merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Secara medik penanganan kanker laring sama seperti kanker lain, yaitu melalui operasi, radiologi, dan kemoterapi. Atau kombinasi 2 atau 3 tindakan tersebut. Tindakan itu tergantung stadium perluasan invasi tumor berdasarkan klasifikasi TNM (ukuran tumor, node – kelenjar getah bening regional, dan metastasis). Pada stadium I tumor dihilangkan dengan radiologi atau penyinaran. Operasi dan kemoterapi dilakukan pada stadium 2 sampai lanjut.

Metastasis

Pada stadium lanjut – di atas stadium 2 – sel kanker metastasis. Biasanya menyebar ke getah bening sehingga menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Sel kanker juga dapat metastasis ke organ tubuh lain seperti paru-paru, hati, dan ginjal.

Pascapengangkatan pita suara sebetulnya Hauw dinyatakan bersih. Maksudnya sel kanker pita suara tidak metastasis. Namun, 3 bulan pascaoperasi pengangkatan organ, Hauw kembali sulit bernapas. Ia lalu memeriksakan diri ke rumahsakit di Jakarta Pusat. Hasil rontgen menunjukkan ada benjolan sebesar pilus bersarang di saluran pernapasaan dekat paru-paru. Benjolan yang menghalangi saluran udara itu tak lain adalah sel kanker stadium lanjut. Untuk menghilangkannya ia harus menjalani radiologi (penyinaran).

Kelenjar getah bening di leher pun membesar. Padahal kelenjar getah bening salah satu sistem pertahanan tubuh. Pembesaran dapat terjadi karena peradangan disebabkan masuknya sel-sel ganas.

“Itu bisa saja terjadi. Salah satunya karena operasi sebelumnya tidak bersih sehingga masih ada sel kanker yang tertinggal,” imbuh Bambang. Menurut Bambang sel tertinggal kemungkinan karena tidak terdeteksi saat pemeriksaan. Itu sebabnya, sepekan pascakemoterapi pasien stadium lanjut sebaiknya menjalani radiologi supaya benar-benar bersih, Itu pun peluang terkena kanker masih ada. Maklum, kanker bisa tumbuh kapan saja.

Itu sebabnya pasien perlu rutin kontrol ke dokter. “Umumnya bila selama 5 tahun kanker tidak muncul pasien dapat dinyatakan terbebas dari kanker,” tambah Bambang. Nah, untuk mencegah kembalinya kanker Bambang menyarankan untuk tidak mengonsumsi makanan berpengawet.

10 lembar daun sirsak

Hauw sudah siap menjalani radiologi tapi keinginan itu batal. Awal Juli 2010, Hauw mengikuti saran keluarga untuk berobat pada seorang dokter sekaligus herbalis di Jakarta Barat. Hauw dianjurkan mengonsumsi rebusan daun sirsak segar. Hauw merebus 10 lembar daun sirsak dalam 2 gelas air. Setelah mendidih menjadi segelas dan diminum sekali setiap hari. Sepekan pertama Hauw masih kesulitan bernapas. Napasnya mulai lega setelah 30 hari rutin menyeruput daun sirsak.

Menurut dr Zainal Gani, dokter dan herbalis di Malang, Jawa Timur, kandungan acetogenins dalam sirsak berperan melawan sel kanker. “Daun sirsak mengendalikan kerja mitokondria yang berlebihan mensintesis protein. Protein sumber energi kanker untuk tumbuh dan berkembangbiak,” ujar Zainal.

Riset Joabe Gomes de Melo dan rekan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecelus, 24 November 2010, menyebutkan sirsak salah satu dari 4 jenis tanaman di Brasil seperti Lantana camara dan Mentzelia aspera yang mengandung antioksidan tinggi dan memiliki efek sitotoksik. Percobaan dilakukan secara in vitro dengan mengambil sel line kanker laring dan paru-paru.

Awalnya, daun sirsak diekstrak dengan methanol menjadi 300 mL selama 72 jam. Percobaan secara in vitro itu menunjukkan ekstrak daun sirsak mengandung antioksidan pada IC50 bernilai 221,52 ± 16,12 µg/mL. Antioksidan itu yang melawan kerja sel kanker. Uji sitotoksik menunjukkan ekstrak daun sirsak memiliki IC50 kurang dari 1.000 ppm. Pada sel line kanker laring nilainya 54,92 ± 1,44% dan sel kanker paru-paru 24,94 ± 0,74%. Artinya, daun sirsak berpotensi sebagai antitumor.

Selain daun sirsak, Hauw meminum beragam ramuan tradisional seperti sambiloto, keladitikus, dan temuputih. Semua obat itu telah dikemas dengan beragam bentuk seperti serbuk dan kapsul. Semua ramuan di luar kapsul digodok untuk 3 kali minum per hari. Selama pengobatan itu ia berpantang terutama makan daging-dagingan dan ikan air tawar. Itu karena daging sumber protein dan energi bagi sel kanker untuk berkembangbiak. “Ikan laut masih dapat dikonsumsi,” kata Hauw.

Hasilnya, setelah 1 – 2 bulan rutin menyeruput rebusan daun sirsak dan ramuan godok kanker mengecil. Terbukti, sewaktu diteropong di rumahsakit Pantai Indah Kapuk, sel kanker di saluran paru-paru mengecil bahkan nyaris tidak ada. Cairan kelenjar getah bening yang dulunya menumpuk di bawah dagu semakin berkurang mendekati normal. Memang sampai saat ini Hauw masih berjuang menuntaskan kanker hasil metastasis. Namun, yang jelas Hauw kini dapat bernapas lega tanpa menjalani radiologi. Bobot tubuhnya pun kembali normal. Maklum, sejak dinyatakan kanker, bobotnya susut dari 75 kg menjadi 62 kg. (Lastioro Anmi Tambunan)

SUMBER : http://www.trubus-online.co.id/trindo7/index.php?option=com_content&view=article&id=5272:daun-sirsak-vs-metastasis-kanker-pita-suara&catid=81:topik&Itemid=520