Archive for Desember, 2008

Jerawat, Bagaimana Mesti Diatasi?

INSYA ALLAH DENGAN MENGKONSUMSI RUTIN HERBAL PRIMA SAUDA PLUS JERAWAT BISA DICEGAH DAN DIOBATI AMIN. HUBUNGI BIN MUHSIN DI 085227044550 / 021-91913103

JERAWAT memang salah satu masalah kulit yang umum dan kerap mengganggu. Bukan hanya bikin kulit jadi tak nyaman karena rasa nyeri yang ditimbulkannya, tetapi juga bisa membuat penampilan wajah jadi kurang enak dilihat.

Bahkan bila jerawat yang diderita cukup parah, bisa meninggalkan bekas berupa vlek hitam atau bopeng dan kulit tampak seperti papan parut. Terbayang, kan, pasti akan minder bila harus punya wajah yang tak bersahabat seperti itu.

Menurut dr. Samuel L. Simon, Sp.K.K., spesialis kulit dari Semanggi Specialist Clinic, jerawat memang merupakan masalah yang kerap mengganggu penampilan, terutama pada wanita. Namun, seringkali orang mempercayai mitos yang berkembang di masyarakat yang mengaitkan jerawat dengan masalah kebersihan atau akibat banyak mengonsumsi makanan berlemak.

“Pada dasarnya jerawat muncul akibat adanya sumbatan di saluran kelenjar minyak yang kemudian terinfeksi bakteri propionibacterium acnes. Dan terjadilah proses inflamasi atau peradangan, sehingga timbullah jerawat,” ungkap Simon memperjelas.

Sedangkan jerawat yang kemudian tampak, baik itu yang berukuran kecil tanpa peradangan (komedo), yang meradang dan bernanah di puncaknya, hingga yang sebesar biji jagung atau umumnya disebut jerawat batu (cystic acne), pada dasarnya memiliki penyebab yang sama. Hanya tingkat keparahannya saja yang berbeda. Dan tingkat keparahan ini yang disumbang oleh berbagai latar belakang

Dari Hormonal Sampai Bedak

Terjadinya jerawat pada umumnya disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain akibat adanya sumbatan, produksi minyak berlebih, atau infeksi bakteri. Namun, beberapa kondisi lain juga bisa memicu terjadinya jerawat. Terutama sangat berkaitan dengan kondisi tubuh dan perlakuan terhadap kulit wajah.

Berdasarkan faktor keturunan, menurut Simon umumnya menjadi penyebab orang bisa berjerawat parah. Secara genetik, peluang berjerawat dapat diturunkan melalui sifat-sifat gen yang mempengaruhi kondisi kulit sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya jerawat.

Misalnya, kelenjar minyak kulit yang overaktif dan perbedaan kemampuan regenerasi kulit yang tidak normal. Regenerasi sel kulit yang tidak normal menyebabkan penumpukan sel kulit mati pada pori. Kondisi ini tentu memperbesar kemungkinan terjadinya penyumbatan pada saluran kelenjar minyak kulit dan peradangan, karena aktivitas bakteri yang memang menyukai tumpukan lemak.

Selain keturunan, faktor hormonal juga dapat memicu makin parahnya jerawat. Aktivitas hormonal yang meningkat seperti menjelang menstruasi atau di masa memasuki usia pubertas, membuat kelenjar minyak kulit menjadi overaktif.

Tetapi harus dipahami, hal ini tidak terjadi pada semua orang. Hanya pada orang-orang tertentu yang kondisi kulitnya sangat berminyak. Jadi, perubahan hormonal tidak selalu menyebabkan seseorang jadi berjerawat.

Selain itu, konsumsi obat kortikosteroid (baik oral maupun topikal) yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, menurut Simon juga dapat menyebabkan jerawat mudah timbul karena aktivitas bakteri kurang baik yang meningkat.

Nah, selain faktor-faktor internal tadi, jerawat juga bisa diperparah atau dipacu oleh faktor eksternal. Pada wanita, penggunaan kosmetik yang mengandung banyak minyak atau penggunaan bedak yang menyatu dengan foundation dapat micu munculnya jerawat.

Penggunaan kosmetik atau produk perawatan seperti pembersih wajah yang terlalu berminyak (mengandung minyak) dapat menyebabkan pori-pori tersumbat. Begitu juga penggunaan bedak yang mengandung foundation. Foundation yang terkandung pada bedak, menyebabkan bubuk bedak mudah menyumbat pori-pori.

Beda Indikasi, Beda Obat
Begitu banyak obat jerawat yang beredar di pasaran, menawarkan berbagai keunggulan dan khasiatnya. Sayangnya, jika tak tahu dengan benar bagaimana dan apa yang diperlukan bagi masalah kulit kita, mengobati jerawat juga bisa jadi tidak efektif.

Kendati yang digunakan adalah obat berharga mahal – atau terkadang kita menganggapnya ‘tidak cocok’ terhadap obat jerawat yang dipakai – walau sebenarnya bukan demikianlah yang terjadi.

Inilah sebabnya mengapa penting untuk memahami terlebih dulu apa kandungan obat dan dan apa fungsinya. Dan perlu diketahui pula, obat jerawat tidak semua berupa obat topikal, meskipun jerawat merupakan masalah di permukaan kulit. Tetapi, obat jerawat juga ada yang diminum (oral).

Beberapa obat jerawat yang diminum memiliki khasiatnya sendiri-sendiri. Misalnya, obat yang mengandung isotretinoin fungsinya untuk mengecilkan kelenjar minyak sehingga produk minyak bias berkurang. Obat minum jenis ini bermanfaat bagi masalah jerawat dengan latar belakang kulit berminyak.

Sedangkan obat jerawat oral yang mengandung tetracycline lebih bertujuan sebagai antibiotik untuk mengatasi adanya infeksi, yang ditandai dengan kemerahan dan timbulnya nanah. Sehingga cocok digunakan pada jerawat yang meradang dan bernanah. Sementara obat jerawat jenis erithromycine dan clindamycine lebih bersifat sebagai antibiotik, yang bisa digunakan pada jerawat, meski belum menunjukkan tanda-tanda peradangan.

Untuk jenis topikal (oles) dikenal banyak merek dan sejumlah kandungan yang ditawarkan. Obat jerawat topikal yang mengandung benzoyl peroxide berfungsi sebagai anti bakteri dan anti inflamasi. Obat oles jenis ini juga dapat mengelupaskan kulit untuk mengangkat sumbatan-sumbatan pori dengan mengangkat kulit mati.

Sedangkan obat jerawat yang mengandung asam retinoin bisa mengeringkan jerawat sekaligus mengecilkan kelenjar minyak. Sehingga cocok untuk jerawat yang meradang pada jenis kulit yang berminyak.

Sembuh Sendiri

Menurut Simon, seharusnya tak perlu khawatir berlebihan menghadapi jerawat, karena sebetulnya jerawat bisa sembuh dengan sendirinya, akan tetapi memang perlu waktu sekitar 2 minggu atau lebih.

“Beberapa orang punta rasa ketakutan, jerawatnya akan semakin meradang. Lalu buru-buru main pencet jerawat. Padahal, kalau dipencet sembarangan justru bisa bikin infeksi dan berbekas!” ungkap Simon mengingatkan.

Simon juga menambahkan, jika memang belum sempat berkonsultasi pada dokter untuk menyembuhkan jerawatnya, sebaiknya biarkan saja dan jangan memegang atau memencetnya. Perlahan dan pasti, jerawat akan sembuh dan hilang dengan sendirinya.

Akan tetapi, menggunakan obat-obatan untuk mengatasi jerawat pun tak ada salahnya, karena dapat berfungsi meredakan keluhan yang menyertai jerawat. Namun sekali lagi, pahami betul kebutuhan akan jenis obat yang mana. “Yang terbaik tetap menemui dokter atau ahlinya untuk mendapatkan pengobatan secara tepat,” pungkas Simon menegaskan.

Laili Damayanti

Jalan Kaki Jinakkan 9 Penyakit

HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) MADU OBAT YANG MENYEMBUHKAN BAGI MANUSIA (QS:AN-NAHL: 69) UNTUK PEMESANAN HUBUNGI BIN MUHSIN HP:085227044550 / 021-91913103 EMAIL /YM : binmuhsin_group@yahoo.co.id friendster: ujang_bmz@yahoo.co.id
===

addthis_url=”; addthis_title=”; addthis_pub=’badrudin’;

===
sumber: kompas.com
===
STUDI dalam beberapa tahun terakhir semakin mengukuhkan bahwa berjalan tergopoh-gopoh dan bukan jalan santai memang memberi banyak manfaat bagi kesehatan kita. Inilah sembilan manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas jalan kaki

(1) Serangan Jantung. Pertama-tama tentu menekan risiko serangan jantung. Kita tahu otot jantung membutuhkan aliran darah lebih deras (dari pembuluh koroner yang memberinya makan) agar bugar dan berfungsi normal memompakan darah tanpa henti. Untuk itu, otot jantung membutuhkan aliran darah yang lebih deras dan lancar. Berjalan kaki tergopoh-gopoh memperderas aliran darah ke dalam koroner jantung. Dengan demikian kecukupan oksigen otot jantung terpenuhi dan otot jantung terjaga untuk bisa tetap cukup berdegup.

Bukan hanya itu. Kelenturan pembuluh darah arteri tubuh yang terlatih menguncup dan mengembang akan terbantu oleh mengejangnya otot-otot tubuh yang berada di sekitar dinding pembuluh darah sewaktu melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu. Hasil akhirnya, tekanan darah cenderung menjadi lebih rendah, perlengketan antarsel darah yang bisa berakibat gumpalan bekuan darah penyumbat pembuluh juga akan berkurang.

Lebih dari itu, kolesterol baik (HDL) yang bekerja sebagai spons penyerap kolesterol jahat (LDL) akan meningkat dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Tidak banyak cara di luar obat yang dapat meningkatkan kadar HDL selain dengan bergerak badan. Berjalan kaki tergopoh-gopoh tercatat mampu menurunkan risiko serangan jantung menjadi tinggal separuhnya.

(2). Stroke. Kendati manfaat berjalan kaki tergopoh-gopoh terhadap stroke pengaruhnya belum senyata terhadap serangan jantung koroner, beberapa studi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tengok saja bukti alami nenek-moyang kita yang lebih banyak melakukan kegiatan berjalan kaki setiap hari, kasus stroke zaman dulu tidak sebanyak sekarang. Salah satu studi terhadap 70 ribu perawat (Harvard School of Public Health) yang dalam bekerja tercatat melakukan kegiatan berjalan kaki sebanyak 20 jam dalam seminggu, risiko mereka terserang stroke menurun duapertiga.

(3). Berat badan stabil. Ternyata dengan membiasakan berjalan kaki rutin, laju metabolisme tubuh ditingkatkan. Selain sejumlah kalori terbuang oleh aktivitas berjalan kaki, kelebihan kalori yang mungkin ada akan terbakar oleh meningkatnya metabolisme tubuh, sehingga kenaikan berat badan tidak terjadi.

(4). Menurunkan berat badan. Ya, selain berat badan dipertahankan stabil, mereka yang mulai kelebihan berat badan, bisa diturunkan dengan melakukan kegiatan berjalan kaki tergopoh-gopoh itu secara rutin. Kelebihan gajih di bawah kulit akan dibakar bila rajin melakukan kegiatan berjalan kaki cukup laju paling kurang satu jam.

(5). Mencegah kencing manis. Ya, dengan membiasakan berjalan kaki melaju sekitar 6 km per jam, waktu tempuh sekitar 50 menit, ternyata dapat menunda atau mencegah berkembangnya diabetes Tipe 2, khususnya pada mereka yang bertubuh gemuk (National Institute of Diabetes and Gigesive & Kidney Diseases).

Sebagaimana kita tahu bahwa kasus diabetes yang bisa diatasi tanpa perlu minum obat, bisa dilakukan dengan memilih gerak badan rutin berkala. Selama gula darah bisa terkontrol hanya dengan cara bergerak badan (brisk walking), obat tidak diperlukan. Itu berarti bahwa berjalan kaki tergopoh-gopoh sama manfaatnya dengan obat antidiabetes.

(6). Mencegah osteoporosis. Betul. Dengan gerak badan dan berjalan kaki cepat, bukan saja otot-otot badan yang diperkokoh, melainkan tulang-belulang juga. Untuk metabolisme kalsium, bergerak badan diperlukan juga, selain butuh paparan cahaya matahari pagi. Tak cukup ekstra kalsium dan vitamin D saja untuk mencegah atau memperlambat proses osteoporosis. Tubuh juga membutuhkan gerak badan dan memerlukan waktu paling kurang 15 menit terpapar matahari pagi agar terbebas dari ancaman osteoporosis.

Mereka yang melakukan gerak badan sejak muda, dan cukup mengonsumsi kalsium, sampai usia 70 tahun diperkirakan masih bisa terbebas dari ancaman pengeroposan tulang.

(7). Meredakan encok lutut. Lebih sepertiga orang usia lanjut di Amerika mengalami encok lutut (osteoarthiris). Dengan membiasakan diri berjalan kaki cepat atau memilih berjalan di dalam kolam renang, keluhan nyeri encok lutut bisa mereda. Untuk mereka yang mengidap encok lutut, kegiatan berjalan kaki perlu dilakukan berselang-seling, tidak setiap hari. Tujuannya untuk memberi kesempatan kepada sendi untuk memulihkan diri.

Satu hal yang perlu diingat bagi pengidap encok tungkai atau kaki: jangan keliru memilih sepatu olahraga. Kita tahu, dengan semakin bertambahnya usia, ruang sendi semakin sempit, lapisan rawan sendi kian menipis, dan cairan ruang sendi sudah susut. Kondisi sendi yang sudah seperti itu perlu dijaga dan dilindungi agar tidak mengalami goncangan yang berat oleh beban bobot tubuh, terlebih pada yang gemuk.

Bila bantalan (sol) sepatu olahraganya kurang empuk, sepatu gagal berperan sebagai peredam goncangan (shock absorber). Itu berarti sendi tetap mengalami beban goncangan berat selama berjalan, apalagi bila berlari atau melompat. Hal ini yang memperburuk kondisi sendi, lalu mencetuskan serangan nyeri sendi atau menimbulkan penyakit sendi pada mereka yang berisiko terkena gangguan sendi.

Munculnya nyeri sendi sehabis melakukan kegiatan berjalan kaki, bisa jadi lantaran keliru memilih jenis sepatu olahraga. Sepatu bermerek menentukan kualitas bantalannya, selain kesesuaian anatomi kaki. Kebiasaan berjalan kaki tanpa alas kaki, bahkan di dalam rumah sekalipun, bisa memperburuk kondisi sendi-sendi tungkai dan kaki, akibat beban dan goncangan yang harus dipikul oleh sendi.

(8) Depresi. Ternyata bergerak badan dengan berjalan kaki cepat juga membantu pasien dengan status depresi. Berjalan kaki tergopoh-gopoh bisa menggantikan obat antidepresan yang harus diminum rutin. Studi ihwal terbebas dari depresi dengan berjalan kaki sudah dikerjakan lebih 10 tahun.

(9). Kanker juga dapat dibatalkan muncul bila kita rajin berjalan kaki, setidaknya jenis kanker usus besar (colorectal carcinoma). Kita tahu, bergerak badan ikut melancarkan peristaltik usus, sehingga buang air besar lebih tertib. Kanker usus dicetuskan pula oleh tertahannya tinja lebih lama di saluran pencernaan. Studi lain juga menyebutkan peran berjalan kaki terhadap kemungkinan penurunan risiko terkena kanker payudara.

Dr. Handrawan Nadesul